www.toko-alkes.com

Akne Vulgaris part 2

Akne Vulgaris terutama dijumpai pada masa remaja, walaupun tidak menutup kemungkinan penyait ini terjadi pada dekade ketiga dan ketempat dari masa kehidupan. Sekitar 90% dari seluruh remaja mengalami akne dalam derajat yang berbeda beda, dan 20% memerlukan pertolongan dokter. Pada umumnya keluhan penderita lebih bersifat estetis, sehingga perlu diperhatikan dampak psiko-sosial penyakit ini pada remaja, yang dapat mempengaruhi interaksi sosial, prestasi sekolah dan juga pekerjaan
A. Latar Belakang Sejarahnya
Sampai saat ini akne vulgaris sulit untuk diobati terutama pada remaja. Penyakit ini terjadi pada dekade ke 3 dan ke 4 daripada massa kehidupan sebelumnya, keluhan pasien bersifat eitesis sehingga perlu diperhatikan psikososial dan dapat mempengaruhi interaksi sosial. Cara penyembuhan yang ampuh untuk akne yang direkasibran tetapi mempunyai efek karakogetik.

B. Definisi
Agne Vulgaris adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh inflamasi kronik dari unit pilosebasea yang ditandai oleh pembentukan komedo, papul, pustul, nodul, dan pada beberapa kasus disetai jaringan parut, dengan predileksi diwajah, leher, lengan atas, dada dan punggung.

C. Etiologi
Empat faktor utama yang berperan dalam patogenesis akne vulgaris adalah :
1. Peningkatan produksi sebum
Penderita dengan akne vulgaris memiliki produksi sebum yang lebih dari rata rata dan biasanya keparahan akne sebanding dengan jumlah produksi sebum.
Aktifitas kelenjar sebasea diatur oleh androgen, baik androgen yang terdapat didalam sirkulasi amupun androgen yang dihasilkan oleh jaringan, memegang peranan dalam proses ini. Kelenjar sebasea mulai berkembang sebelum pubertas. Androgen yang dikeluarkan oleh kelenjar adrenal terutama dehidroeplandrosterone sulphate (DHEA-S) merangsang aktifitas kelenjar sebasea, menstimulasi pembentukan komedo, sehingga beberapa peneliti menyebutkan DHEA-S sebagai acne androgen.
Pada saat pubertas androgen yang dihasilkan oleh gonad (testes pada pria, ovarium pada wanita) terutama testosteron, ikut berperan merangsang kelenjar sebasea.
Enzim 5 a reductase merubah testosteron menjadi dehidrotestosteron yang dianggap sebagai androgen jaringan yang paling poten.
Aktifitas enzim ini juga terjadi di epitel infundibulum, sehingga hormon androgen diperkirakan berperan pada hiperkeratinisiasi folikuler yang timbul pada penderita akne.
Beberapa penderita akne kistik yang berat, akne yang ada kaitannya dengan kelenjar endokrin, seperti hiperplasia adrenal kongenital, tumor pada kelenjar adrenal atau ovarium, mempunyai kadar androgen yang tinggi didalam serum.

2. Keratinisasi abnormal duktus pilo sebasea
Pada penderita akne terjadi hiperkeratosis duktus pilo sebasea yang secara klinis tampak sebagai komedo tertutup (whitehead) dan komedo terbuka (blackhead) yang didahului oleh mikrokomedo. Mikrokomedo merupakan lesi inisial akne dengan inflamasi dan non inflamasi.
Komedo tertutup mengandung keratin dan debris lemak, sedangkan komedo terbuka berasal dari oksidasi tirosin menjadi melanin melalui pori pori yang terbuka.
Penyebab terjadinya hiperkeratosis, yaitu :
1. Androgen selain menstimulasi kelenjar sebasea juga berpengaruh pada hiperkeratosis saluran kelenjar.
2. Pada penderita akne komposisi sebum menunjukkan penurunan konsentrasi asam linoleat yang signifikan dan terdapat hubungan yang terbalikantara produksi sebum dan konsentrasi asam linoleat. Hal ini secara teori dikatakan dapat menginduksi hiperkeratosis folikel serta penurunan fungsi barier epitel.

3. Kolonisasi propionibacterium acnes
Organisme yang dominan sebagai flora di folikel pilo sebasea adalah propionibacterium acnes yaitu difteroid pleomorfik yang bersifat anaerob. Remaja dengan kulit yang berminak mengandung P. acnes yang lebih tinggi, tetapi sedikit hubungannya antara jumlah bakteri dipermukaan kulit atau didalam saluran pilo sebasea dengan beratnya gejala klinis akne.
Lingkungan bakteri nampaknya lebih penting dibandingkan dengan jumlah bakteri dalam pembentukan lesi akne.
Pacnes menghasilkan enzim lipase yang dapat mengubah trigliserid dalam sebum menjadi asam lemak bebas. Fraksi asam lemak bebas ini dapat menginduksi inflamasi dan memepngaruhi kekentalan sebum, yang berperan dalam patogenesis akne vulgaris.
Dalam pengobatan akne, antibiotik diberikan untuk mengurangi jumlah P. acnes.

4. Proses inflamasi
Inflamasi yang terjadi tidak disebabkan oleh bakteri yang terdapat dikulit, karena jarang ditemukan, baik pada pemeriksaan rutin maupun dengan imunofloresensi. Kemungkinan proses inflamasi diakibatkan oleh mediator aktif yang dihasilkan oleh P. acnes yang terdapat didalam folikel.
P. acnes dapat memicu reaksi radang imun dan non imun :
a. P. acnes memproduksi lipase yang dapat menghidrolisis trigliserid dari sebum menjadi asam lemak bebas yang bersifat iritasi dan komedogenik
b. Pelepasan faktor kemotaktik oleh p. Acnes akan menarik lekosit ke daerah lesi. Enzim hidrolisis yang dihasilkan oleh lekosit dapat merusak dinding folikel, kemudian isi folikel seperti : sebum, epitel yang mengalami keratinisasi, rambut dan P. acnes masuk kedermis. Reaksi non imun benda asing dimulai pertama kali oleh mononuklear, kemudian oleh sel makrofag dan sel raksasa, sehingga timbul inflamasi.
c. Aktifasi komplemen dari pejamu
Proliferasi P. Acnes kemungkinan terjadi akibat produksi sebum yang meningkat, sehingga jumlah P. Acnes didalam folikel meningkat.

D. Epidemiologi
Akne merupakan penyakit yang sering dijumpai dan sebagian besar merupakan kelainan fisiologis. Akne ringan dapat terjadi pada bayi yang baru lahir dan dapat berlanjut sampai neonatus. Akne paling sering terjadi pada masa remaja, dan dimulai pada awal pubertas.
Insiden akne pada remaja bervariasi antara 30 60% dengan insiden terbanyak pada umur 14-17 tahun tahun pada wanita dan 16-19 tahun pada pria.
Kligman melaporkan 15% remaja mempunyai akne klinis (akne major) dan 85% akne fisiologis (akne minor), yaitu akne yang hanya terdiri dari beberapa komedo.
Akne nodulokistik terutama banyak terdapat pada wanita kulit putih dibandingkan dengan yang berkulit hitam.

E. Faktor faktor yang mempengaruhi terjadinya akne
1. Faktor genetik
Faktor genetik memegang peranan penting terhadap kemungkinan seseorang menderita akne. Penelitian di Jerman menunjukkan bahwa akne terdapat pada 45% remaja yang salah satu atau kedua orang tuanya menderita akne, dan hanya 8% bila kedua orangtuanya tidak menderita akne. Ada hubungan antara sindrom XYY dengan akne yang berat.
2. Faktor ras
Warga Amerika berkulit putih lebih banyak menderita akne dibandingkan dengan yang berkulit hitam dan akne yang diderita lebih berat dibandingkan dengan orang Jepang.

3. Hormonal
Pada wanita 60-70% akne yang diderita menjadi lebih parah beberapa hari sebelum menstruasi dan menetap sampai seminggu setelah menstruasi.
4. Diet
Tidak ditemukan adanya hubungan akne dengan asupan total kalori dan jenis makanan, walaupun beberapa penderita menyatakan akne bertambah parah setelah mengkonsumsi makanan tertentu, seperti coklat dan makanan berlemak.
5. Iklim
Cuaca yang panas dan lembab memperburuk akne. Hidrasi pada stratum korneum epidermis dapat merangsang terjadinya akne.
6. Lingkungan
Akne lebih sering ditemukan dan gejalanya lebih berat di daerah industri dan pertambangan dibandingkan dengan di pedesaan.
7. Stres
Akne dapat kambuh atau bertambah buruk pada penderita dengan stres emosional.

F. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis akne dapat berupa lesi non inflamasi (komedo terbuka dan komedo tertutup), lesi inflamasi superfisial (papul, pustul) dan lesi inflamasi dalam (nodul).
a. Komedo
Komedo adalah tanda awal dari akne. Lesi dapat berupa komedo berupa komedo terbuka atau komedo tertutup.
Komedo terbuka tampak sebagai lesi yang datar atau sedikit meninggi dengan sumbu folikel yang berwarna gelap, berisi keratin dan lipid. Ukuran bervariasi antara 2 3 mm, biasanya bahan keratin terlepas dan tidak terjadi inflamasi kecuali bila terjadi trauma.
Komedo tertutup berupa papul kecil, biasanya kurang dari 1 mm, berwarna pucat, mempunyai potensi yang lebih besar untuk mengalami inflamasi sehingga dianggap lebih penting secara klinis.
b. Pustul
Pustul akne vulgaris merupakan papul dengan puncak berupa pus.
c. Nodul
Nodul pada akne vulgaris merupakan lesi radang dengan diameter 1 cm atau lebih, disertai rasa nyeri, dan lesi dapat bertahan sampai beberapa minggu atau bulan.
d. Jaringan Parut
Ada beberapa bentuk jaringan parut, antara lain ialah :
1. Ice pick scar, merupakan jaringan parut depresi dengan bentuk ireguler, terutama diwajah
2. Fibrosis peri folikuler, ditandai dengan cincin kuning disekitar folikel
3. Jaringan parut hipertrofik atau keloid, sering terdapat didada, punggung, garis rahang (jaw line) dan telinga, lebih sering ditemukan pada orang berkulit gelap.
e. Grading
Sistem grading yang diterima yang diterima secara luas belum ada. Klasifikasi diperlukan untuk menjelaskan morfologi, distribusi lesi, komplikasi, respon terhadap terapi dan dampak penyakit secara individu.
Klasifikasi akne vulgaris yang direkomendasikan sekarang adalah berdasdarkan tipe lesi yang dominan, misalnya :
- Akne komedonal
- Akne papulo pustular
- Akne nodulo kistik
Menurut derajat penyakit, akne dibagi menjadi :
- Akne ringan
- Akne sedang
- Akne berat

G. Variasi Klinis
Dikenal beberapa bentuk variasi klinis :
1. Akne neonatorum
Akne neonatorum terjadi karena rangsangan terhadap kelenjar sebasea oleh androgen dari ibu dan androgen yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal neonatus yang hiperaktif. Pengobatan dengan menggunakan obat topikal seperti pada remaja, dan jarang memerlukan antibiotik sistemik.
2. Acne excoriee desjeunes filles
Lesi berupa akne ringan disertai ekskoriasi yang hebat sehingga dapat terjadi jaringan parut linear.
3. Akne kosmetik
Kosmetik dapat menyebabkan timbulnya akne pada wanita dewasa, karena bahan yang digunakan bersifat komedogenik.
4. Akne konglobata
Patogenesis yang sesungguhnya tidak diektahui, tetapi karena sering ditemukan staphylococcus positive coagulase dan kadang kadang ditemukan streptococcus hemolyticus, maka akne konglobata sering dianggap sebagai pioderma.
5. Akne fulminan
Penyakit ini disebut juga acute febrile ulcerative acne. Lesi terutama terdapat di dada dan punggung, jarang mengenai wajah.
6. Akne tropikal
Penyakit ini sering ditemukan pada angkatan bersenjata kaukasia yang bertugas di daerah tropis. Lesi berupa nodul dengan sinus yang multipel, terutama dibagian tubuh dan bokong. Pengobatan utama adalah dengan memindahkan penderita ke daerah dingin.
7. Akne akibat kerja
Beberaa bahan inudstri dapat menyebabkan akne, antara lain derivat tar, minyak pemotong (cutting oil) dan chlorinated hydrocarbon. Lesi dapat ditemukan diwajah dan bagian tubuh yang tertutup pakaian yang mengandung bahan tersebut.
8. Folikulitis gram negatif
Ada 2 tipe folikulitis gram negatif.
Tipe 1
Mengenai sebagian besar penderita pustula menyebar pada wajah dannares anterior dan dari lesi dapat diisolasi enterobacter dan klebsiella spp.

Tipe 2
Ditandai oleh nodul yang dalam, disebabkan oleh proteus spp.
Folikulitis gram negatif dapat dicegah dengan melakukan tapering off antibiotik yang diberikan secara oral atau dengan memakai kombinasi antibiotik oral dan bezoil peroksid atau tretinoin topikal.

H. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium dilakukan bila dicurigai adanya hiperandrogenisme. Pemeriksaan laboratorium meliputi serum DHEAS, testosteron total total, testosteron bebas, luteinizing hormone (LH) dan folicle stimulating hormone (FSH). Tes ini bertujuan untuk mengetahui sumber hiperandro genisme.
Peningkatan restosteron yang berlebihan mungkin menunjukkan tumor ovarium.

I. Patofisiologi
Pembentukan komedo dimulai dari bagian tengah folikel akibat masuknya bahan keratin sehingga dinding folikel menjadi tipis dan menggelembung. Secara bertahap akan terjadi penumpukan keratin sehingga dinding folikel menjadi bertambah tipis dan dilatasi.
Komedo terbuka jarang mengalami inflamasi, kecuali bila sering terkena trauma. Mikrokomedo dan komedo tertutup merupakan sumber timbulnya lesi yang inflamasi.

J. Diagnosis
Diagnosis akne vulgaris pada umumnya mudah ditegakkan. Keluhan penderita dapat berupa rasa gatal atau sakit, tetapi pada umumnya keluhan penderita lebih bersifat kosmetik.
Pada pemeriksaan kulit didapatkan erupsi kulit pada tempat predileksi yang bersifat polimorfi, yang terdiri dari komedo (tanda patognomonik akne vulgaris), papul, pustul dan nodul.


K. Diagnosa Banding
1. Erupsi akneformis
Lesi ini disebabkan oleh obat-obatan. Obat yang dapat merangsang timbulnya lesi ini adalah androgen, adrenocorticotropic hormone (ACTH), steroid (topikal dan sistemik), barbiturat, siklosporin A, fenitoin, karbamasepin, isoniasid, rifampisin, litium, etionamid, bromid dan iodid.
Akne steroid lebih bersifat monomorfik dan tidak ditemukan komedo.
2. Rosacea
Rosacea merupakan penyakit peradangan kronis pada kulit wajah. Penyakit ini ditandai dengan eritema yang persisten, disertai telangiektasis, papul dan pustul.
3. Flat wart
Lesi yang terletak diwajah mirip dengan akne, berupa papul dengan warna lesi sama dengan warna kulit, dapat menyebar bila terkena trauma (fenomena koebner).
4. Dematitis perioral
Gejala klinis berupa papul eritema atau papulo pustul dengan ukuran 1 3 mm, terletak di dagu, cekungan nasolabial dan sekitar mulut, disertai skuama dan rasa gatal, kortikosteroid topikal dapat memperberat keadaan ini.
Pengobatan dengan antibiotik topikal dan sistemik. Metronidazol topikal memberikan hasil yang baik.
5. Adenoma sebaseum
Sering merupakan manifestasi kulit dari penyakit tuberous sclerosis. Nampak sebagai papul merah muda sampai merah diwajah, yang timbul sejak usia anak anak atau pubertas. Lesi ini merupakan angiofibroma.


L. Penatalaksanaan
Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam penatalaksanaan akne vulgaris, yaitu pengertian tentang cara kerja obat serta efek sampingnya dan penanganan penderita yang bersifat individual.
Tujuan utama dalam penatalaksanaan ini adalah menghindari trauma psikologis dan terjadinya jaringan parut.
Beberapa hal yang erlu diperhatikan dalam pengobatan akne,yaitu :
1. Perhatian terhadap keadaan emosional remaja tidak boleh diabaikan
2. Pengobatan memerlukan waktu beberapa bulan dan pengobatan topikal sering menyebabkan akne lebih parah dalam 3 4 minggu.
3. Diet makanan tidak meningkatkan keparahan akne sehingga pembatasan diet tidak diperlukan, kecuali pada penderita yang mengeluhkan penyakitnya memburuk setelah mengkonsumsi makanan tertentu.
4. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik
5. Penderita wanita perlu diperiksa adanya hirsutisme, alopesia dan obesitas. Perlu ditanyakan tentang siklus menstruasi dan penggunaan pil kontrasepsi oral.
Secara umum terdapat 4 prinsip utama dalam pengobatan penderita akne, yaitu :
1. Penurunan aktivitas kelenjar sebasea
2. Memperbaiki keratinisasi folikel
3. Penurunan jumlah bakteri didalam folikel, terutama P. Acnes, sehingga dapat mengurangi pembentukan produk inflamasi ekstraselular.
4. Menghambat inflamasi.
Pengobatan untuk memperbaiki kreatinisasi folikel merupakan terapi utama untuk akne non inflamasi, sedangkan ketiga prinsip yang lainnya digunakan pada akne dengan inflamasi.
Pemberian pengobatan pada penderita akne didasarkan atas berat dan luasnya lesi :
1. Akne komedonal yang ringan diberikan obat akne yang mengandung asam salisilat, sulfur, resorsinol, atau benzoil peroksid.
2. Akne komendonal yang sedang sampai berat diberikan obat tambahan tretinoin, adapalen, atau tazaroten topikal pada malam hari.
3. Akne degan inflamasi ringan diberikan tambahan antibiotik topikal
4. Akne dengan inflamasi sedang sampai berat dan akne inflamasi ringan yang tidak memberikan respon terhadap antibiotik topikal memerlukan antibiotik sistemik.
5. Akne nodular yang tidak memberi respon terhadap antibiotik sistemik diberikan isotretinon dengan pengawasan yang ketat.
6. pada wanita, pil kontrasepsi oral dapat diberikan untuk semua jenis akne.

Pengobatan akne vulgaris terdiri dari :
1. Pengobatan topikal
Asam Salisilat, sulfur, resorsinol, benzoil, peroksid, retinioid (tretinoin, tazaroten dan adapalen), azelaic acid, antibiotik topikal (klindamisin, ertromisin dan metronidazol).
2. Pengobatan sistemik
Antiobiotik, 13-cis-retinoic acid (isotretinoin) dan hormon (kontrasepsi oral, kortikosteroid dan antiandrogen).
3. Pembedahan pada akne
4. lain lain

1. Pengobatan topikal
Solutio dan gel bersifat mengeringkan dan tidka berminyak sehingga cocok untuk kulit berminyak. Krim cocok untuk remaja dengan kulit kering dan sensitif.

Benzoil peroksid
Benzoil peroksid merupakan anti bakteri kuat yang mempunyai efek menurunkan jumlah P. Acnes sehingga dapat menghambat hidrolisis trigliserid dengan akibat berkurangnya asam lemak bebas dipermukaan kulit. Disamping itu benzoil peroksid juga bersifat komedolitik ringan.
Efek samping dapat berupa dermatitis kontak, rambut memutih dan mewarnai pakaian.

Azelaic Acid
Obat ini dipakai untuk mengobati akne ringan sampai dengan yang mengalami inflamasi..
Efek samping berupa pruritus, rasa perih, bercak kemerahan dan hipopigmentasi.

Ratinoid (tretinoin, tazaroten, adapalen)
Retinoid adalah derivat vitamin A yang bersifat komedolitik. Preparat terbaru retinoid adalah tazaroten dan adapalen yang bersifat kurang iritasi dibandingkan dengan tretinoin.
Cara kerja obat ini adalah dengan mengurangi hiperkeratosis dan kohesi sel epitel folikel sehingga pembentukan sumbatan folikkel dan komedo terhambat.
Obat ini bersifat fotosensitif sehingga ahrus menghindari sinar matahari dan memakai tabir surya SPF 15 atau lebih pada siang hari.
Efek samping dapat berupa :
- Pengelupasan kulit, kulit kering dan iritasi
- Hipergmentasi atau hipopigmentasi
- Sensitif terhadap sinar matahari
- Berpotensi teratogenik, pada pemakaian topikal obat diserap sangat sedikit dan belum ada laporan kelainan kongenital karena pemakaian topikal.

Adapalen
Adapalen merupakan derivat naphotoic acid, mempunyai cara kerja yang sama dengan retinoid, bersifat tahan sinar matahari dan kurang iritasi.

Tazaroten
Tazaroten merupakan bahan sintetik acetylenic retinoid yang cepat diserap oleh kulit dan berubah menjadi metabolit aktif yaitu tazarotenic acid.

Antibiotik topikal
Antibiotik topikal berguna untuk mengurangi jumlah P. Acnes dan menurunkan kadar asam lemak bebas di permukaan kulit.
Antibiotik topikal mempunyai efek langsung pada kulit dan tidak menyebabkan efek samping sistemik, tetapi sering terjadi resistensi kuman.
2. Pengobatan sistemik
a. Antibiotik
Antibiotik sistemik digunakan pada lesi akne dengan inflamasi. Antibiotik sistemik juga mempunyai efek langsung terhadap reaksi inflamasi, yaitu dengan menekan faktor khemotaktik.
Antibiotik yang sering dipakai adalah tetrasiklin, doksisiklin, minosiklin, eritromisin dan dapson.

Tetrasiklin
Tetrasiklin mempunyai afinitas yang kuat pada jaringan yang mengandung mineral dan dideposit pada gigi yang sedang tumbuh, sehingga menimbulkan warna kuning kecoklatan pada gigi permanen. Tetrasiklin juga menghambat pertumbuhan tulang pada fetus. Karena itu tetrasiklin tidak boleh diberikan pada wanita hamil, bayi dan anak dibawah umur 8 tahun. Pada wanita hamil dan anak digunakan eritromisin.

Doksisiklin
Kerugian yang utama dalam pemakaian doksisiklin adalah reaksi fotosensitivitas.

Minosiklin
Pemakaian dosis yang tinggi dapat terjadi vertigo dan tinitus, juga dilaporkan dapat terjadi minocycline induce autoimmune hepatitiws dan systemic lupus erythematosus like syndrome, walaupun jarang.


Dapson dan klindamisin
Dapson dan klindamisin memberikan efek samping yang serius, sebaiknya hanya digunakan pada akne yang berat dan sulit disembuhkan. Klindamisin dapat menimbulkan kolitis pesudomembran, yang dapat bersifat fatal.

b. Isotretinoin (13 cis retinoic acid)
Aspek yang nyata dari pengobatan isotretinoin adalah remisi yang komplit pada hampir semua kasus dan remisi dapat bertahan selama beberapa bulan sampai beberapa tahun.
Isotretinoin merupakan derivat vitamin A sintetik yang mempengaruhi keratinisasi dengan menekan produksi sebum dan pertumbuhan p. Acnes.
Efek samping isotretinoin pada kulit dan mukosa berupa kheilitis, konjungtivitis, kulit dan mulut kering. Efek samping lainnya adalah pseudotumor serebri, sakit kepala, penurunan visus dimalam hari dan hiperostosis yang asimtomatis.

c. Hormon
Pemakaian hormon pada terapi akne bertujuan untuk menghambat efek androgen pada kelenjar sebasea.

Kontrasepsional
Penggunaan kontrasepsi oral yang mengandung estrogen dan progesteron lebih baik dibandingkan dengan estrogen saja dan efektif menekan aktivitas kelenjar sebasea. Pilihan terbaik adlaah kontrasepsi oral genrasi ketiga yang mengandung lebih sedikit progestin androgenic seperti : desogestrel atau norgestimate.
Kontrasepsi oral yang mengandung etinil estradiol dan norgestimate memberikan hasil yang baik untuk pengobatan akne.
Efek samping berupa mual, peningkatan berat badan, spotting, nyeri payudara, amenore, menoragi dan melasma.

Glukokortikoid
Glukokortikoid sistemik digunakan untuk akne karena mempunyai efek antiinfilamasi dan dapat mengurangi produksi androgen adrenal.

Gonadotropin releasing hormone agonist (GnRH agonist)
GnRH agonist bekerja pada kelenjar pituitari dengan menghambat siklus pelepasan gonadotropin sehingga menekan steroidogenesis ovarium. Obat ini efektif untuk akne dan hirsutism. Penggunaannya terbatas karena efek sampingnya berupa gejala menopause dan tulang keropos.

Antiandrogen
Siproteron asetat bekerja dengan menghambat reseptor androgen. Untuk pengobatan akne diberikan dalam bentuk kombinasi dengan etinil estradiol sebagai kontrasepsi oral.
Spirinolakton berfungsi ebagai penghambat reseptor androgen dan 5 reductase.

3. Pembedahan pada akne
a. Mengeluarkan komedo dengan komedo ekstraktor
b. Infeksio steroid intralesi
Injeksi steroid intralesi digunakan untuk lesi nodular. Sebelum injeksi dilakukan aspirasi kemudian disuntikkan triamsinolon (2,5 mg/ml) sebanyak 0.025 0.1 ml dibagian tengah lesi.
c. Pengobatan jaringan parut
Eksisi untuk lesi kecil dengan batas yang jelas.
Dermabrasi untukjaringan parut yang mempunyai kedalaman yang rata.
Injeksi kolagen dengan menggunakan kolagen dermal sapi untuk meninggikan jaringan parut yang cekung. Pengobatan diulang setelah 18 bulan.

4. Lain lain
Cover mark untuk menutupi jaringan parut dan pigmentasi pasca inflamasi.

M. Kesimpulan
Akne vulgaris merupakan penyakit yang sering dijumpai dikalangan remaja. Pada sebagian besar remaja akne vulgaris bersifat fisiologis dan sembuh spontan pada umur sekitar 20 tahun. Pada keadaan yang berat diberikan pengobatan sesuai dengan beratnya penyakit. Pengobatan berlangsung cukup lama sehingga dibutuhkan kesabaran penderita, dan dokter perlu memperhatikan keadaan psikologi penderita.
Dalam patogenesis akne vulgaris ada 4 faktor yang berperan, yaitu : 1. Peningkatan produksi sebum, 2. Keratinisasi abnormal dari duktus pilo sebasea, 3. Kolonisasi propionibacterium acnes, dan 4. proses inflamasi.
Pengobatan pada akne vulgaris ditujukan untuk menormalkan keadaan tersebut sehingga penderita, terhindar dari terjadinya jaringan parut.
Pengobatan terdiri dari pengoabtan topikal, yaitu benzoil peroksid, tretinoin, azelaic acid dan antibiotik dan pengobatan sistemik yang terdiri dari antibiotik, hormon (biasanya dalam bentuk pil kontrasepsi oral) dan isotretinoin.
Isotretinoin merupakan obat yang ampuh untuk akne yang rekalsitran, tetapi mempunyai efek teratogenik sehingga pemakaiannya harus dibawah pengawasan yang ketat dari dokter.

DAFTAR PUSTAKA

1. Baran. R, Chibot. M, Shalita. AR. Acne. Dalam Baran. R, Maibach HI, penyunting. Texbook of cosmetic dermatology ; edisi ke 2. martin dunitz. Singapore : Kyodo Printing Co (Spore) Ltd. Pte, 1998 ; 434 444.
2. Cohen. Ba, Prose N, Schachner LA. Acne, dalam : schachner LA, Hasen HC, penyunting, Pediatric Dermatology ; edisi ke 2. Newyork : Churchill Livingstone, 1995 ; 661 673
3. Cunlife WJ. Acne. London : Martin Dunitz Ltd, 1989
4. Cunliffe WJ. Simpson NB, Disorders of the Sebaceous Glands. Dalam champion RH, Burton Jl. Burns DA, Breathnach SM, penyunting, Texbook of Dermatology, vol. 3, edisi ke 6. London : Blackwell Science,1998 ; 1940 1979.
5. Lookingbill DP. Endocrenology in acne. Dalam : Dermatology at the Millenium. The Proceedings of the 19th. World Congress of Dermatology, Sidney, 15-20 June 1997. London : The Parthenon Publishing Group, 1999 ; 45 453.
6. Odom RB, James WD, Berger TG. Andrews Diseases of The Skin, edisi ke 9. Philadelphia : WB. Saunders Company, 2000 : 284 306
7. Pakula AS, Neinstein LS, Acne vulgaris. Dalam : Neinstein LS, penyunting. Adolescent Helath Care, A Practical Guide. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins, 2002 ; 441 456.
8. Plewig. G, Kligman AM, Acne, Morphogenesis and Treatment. Berlin : Springer Verlag, 1975.
9. Strauss JS. Acne vulgaris. Dalam : Fitzpatrick TB, Freedberg IM, Eisen AZ, et all, penyunting, Dermatology in General Medicine, Edisi ke 4. New York : Mc. Graw Hill, 1999 : 709 721.

0 komentar:

Poskan Komentar